Setelah menjelaskan
konsepnya tentang Pancasila di hadapan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung
Karno mengungkapkan hal yang menarik mengenai latar belakangnya sebagai seorang
Islam.
“Saya seorang Islam,
saya demokrat karena saya orang Islam. Saya menghendaki mufakat, maka saya
minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam
menyatakan, bahwa kepala-kepala negara, baik para khalifah maupun amirul
mu’minin harus dipilih oleh rakyat ?”
Pertanyaannya, benarkah
butir-butir mutiara Pancasila itu ada di dalam Al-Qur’an ? Marilah kita kaji
satu per satu. Tapi hanya kami sebut beberapa ayat saja sebagai referensi,
supaya tidak berlarut-larut. Dan kami sampaikan dalam bentuk terjemahnya,
supaya lebih mudah dimengerti. Namun apabila anda ingin study yang lebih
mendalam, bisa merujuknya ke kitab Al-Qur’an. Mungkin di lain waktu kita bisa
diskusikan lebih jauh lagi sampai tuntas.
1. Ketuhanan Tuhan Yang
Maha Esa
Perintah untuk mengakui
dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, antara lain terdapat pada Surat 112
(Al-Ikhlas) dan Surat 2 (Al Baqarah).
“Katakanlah: “Dia-lah
Allah, Yang Maha Esa.” (QS 112:1)
“Dan Tuhanmu adalah
Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.” (QS 2:163)
“Hai manusia, sembahlah
Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu
bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan
dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah
kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS
2:21-22)
2. Kemanusiaan yang
adil dan beradab
Tentang kemanusiaan
dapat dilihat pada beberapa ayat, antara lain Surat 2 (Al Baqarah), 31
(Luqman), dan 49 (Al Hujuraat)
“Jangahlah kamu jadikan
(nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan,
bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (QS 2:224)
“Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri.” (QS 31:18)
“Orang-orang beriman
itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan)
antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat
rahmat.” (QS 49:10)
“Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS 49:13)
3. Persatuan Indonesia
Kewajiban rakyat
terhadap bangsa dan negara, antara lain dijelaskan dalam Surat 4 (An Nisaa’)
dan 3 (Ali ‘Imran).
“Hai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia
kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya.” (QS 4:59)
“Hai orang-orang yang
beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga
(di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
(QS 3:200)
Adakalanya untuk
mempertahankan tegaknya persatuan dan kesatuan negara, kita dituntut untuk
berjuang, baik dengan harta maupun jiwa. Hal itu ditegaskan dalam Surat 5
(Al-Maa’idah) dan 9 (At-Taubah).
“Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
(QS 5:35)
“Sesungguhnya Allah
telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan
surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh
atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada
Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan
itulah kemenangan yang besar.” (QS 9:111)
4. Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmah dalam permusyawaratan / perwakilan
Mengenai pokok-pokok demokrasi dijelaskan
dalam beberapa ayat, antara lain pada Surat 3 (Ali ‘Imron), 27 (An-Naml), dan
42 (Asy-Syuura).
“Maka disebabkan rahmat
dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS 3:159)
“Berkata dia (Balqis):
“Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak
pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).” (QS
27:32)
“Dan (bagi) orang-orang
yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan
mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan
sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS 42:38)
5. Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia
Berbuat adil
diperintahkan Allah Swt dalam beberapa ayat, antara lain Surat 4 (An Nisaa’), 5
(Al- Maa’idah), 16 (An Nahl).
“Wahai orang-orang yang
beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi
karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.
Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan
jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesung-
guhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS 4:135)
“Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 4:58)
“Hai orang-orang yang
beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 5:8)
“Sesungguhnya Allah
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS
16:90)
“Sembahlah Allah dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah
kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang- orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan
hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang
lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya
kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang
menghinakan.” (QS 4:36-37)
Kesimpulan
Butir-butir Pancasila
yang bernilai luhur ternyata ada rujukannya di dalam Al-Qur’an. Ini merupakan
salah satu alasan, mengapa para alim ulama di Indonesia mengakui Pancasila
sebagai landasan ditegakkanya negara Indonesia. Bahkan kemudian NU dan
Muham-madiyah, sebagai organisasi agama terbesar, memasukkan Pancasila dalam
Anggaran Dasar organisasinya.
Yang menjadi tugas kita
adalah bagaimana supaya Pancasila itu betul-betul menjadi nyata dalam kehidupan
berbangsa, bernegara maupun dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan hanya
sebagai jimat ideologi saja, yang diletakkan di lemari kaca, indah dipandang,
tapi tidak diamalkan.
Soal bagaimana kita
harus merealisasikan Pancasila, Bung Karno berkata: “Tidak ada satu
Weltanschauung dapat menjadi kenyataan – menjadi realiteit – jika tidak dengan
perjuangan! Janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah
perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan! Marilah kita sama-sama
berjuang. Marilah kita sama-sama bangga menjadi orang Indonesia !” (Oleh: Abi
Mursalat)
sumber : http://imtaq.net/pancasila-dalam-perspektif-al-quran/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar